Tuesday, August 16, 2011
Friday, August 12, 2011
Ruangan
Tag:
fiksi
Tiara belajar memahami hari yang hilang. Ketika seseorang yang baru menghampiri dan mengetuk hati yang sendiri.
"Permisi.."
"Ya.. Ada apa.."
"Apakah ada ruangan kosong di dalam?"
Tertegun mendengar pertanyaan seperti itu. Buat Tiara itulah pertanyaan membahagiakan sekaligus haru. Apalagi yang terbesit dalam pikiran selain, ingin sekali mengatakan bahwa ruang kosong tersedia tanpa batas di dalam sini. Hanya saja...
"Penuh ya?"
"Tidak..."
Tiara membuka lebar pintunya. Memperlihatkan bahwa di dalam sini adalah ruang kosong yang sangat luas. Lalu seseorang tadi tersenyum. Ada rona kepuasan yang tersirat.
"Kalau begitu saya masuk."
Tiara diam saja.
Beberapa menit saja, cerita menjadi berbeda. Rona kepuasan yang tadi ada berubah menjadi gundah.
"Maaf saya harus pergi..."
"Ya."
"Begini ternyata..."
"Apa?"
"Ruangan ini sesak."
"Akhirnya kamu tahu."
"Pergi dan lepaskanlah. Maka ruangan ini akan benar kosong dan damai untuk didiami."
"Begitulah, mungkin nanti."
"Permisi.."
"Ya.. Ada apa.."
"Apakah ada ruangan kosong di dalam?"
Tertegun mendengar pertanyaan seperti itu. Buat Tiara itulah pertanyaan membahagiakan sekaligus haru. Apalagi yang terbesit dalam pikiran selain, ingin sekali mengatakan bahwa ruang kosong tersedia tanpa batas di dalam sini. Hanya saja...
"Penuh ya?"
"Tidak..."
Tiara membuka lebar pintunya. Memperlihatkan bahwa di dalam sini adalah ruang kosong yang sangat luas. Lalu seseorang tadi tersenyum. Ada rona kepuasan yang tersirat.
"Kalau begitu saya masuk."
Tiara diam saja.
Beberapa menit saja, cerita menjadi berbeda. Rona kepuasan yang tadi ada berubah menjadi gundah.
"Maaf saya harus pergi..."
"Ya."
"Begini ternyata..."
"Apa?"
"Ruangan ini sesak."
"Akhirnya kamu tahu."
"Pergi dan lepaskanlah. Maka ruangan ini akan benar kosong dan damai untuk didiami."
"Begitulah, mungkin nanti."
Sunday, July 31, 2011
Tak Ada
Tak ada rindu yang lebih menyesakkan dari sekedar hampir sampai.
Tak ada rindu yang lebih menyakitkan dari sekedar memandangnya sekilas.
Friday, June 17, 2011
Tag:
chefwannabe,
project
Wednesday, May 25, 2011
Jiwa Tanpa Nyawa
![]() |
| Lalu apalagi yang kau pinta, jika sudah begini. |
Lalu apalagi yang kau pinta.
Sulung nista tak tahu lagi harus apa.
Setelah cinta pun dilepas.
Mungkin itulah yang kau pinta.
Dia menyanggupinya,
meski hati dijadikannya tumbal.
Lalu apalagi yang kau pinta.
Tentang peluh keceriaan bekerja.
Tak ada lagi selain dia pecinta belajar.
Semua harusnya baik.
Bukan kobar amarah tanpa alasan.
Lalu apalagi yang kau pinta.
Menjadi penikmat luka?
Menjadi batu yang berlumut?
Menjadi gila pinggir kota?
MENJADI APA?
Lalu apalagi yang kau pinta.
Selain bertanya pada Tuhan,
Thursday, May 12, 2011
Samar
Tag:
fiksi
aku sering termenung pada barisbaris kosong
hamparan langit biru tanpa corak sedikitpun
ke mana gadis kecil yang menangis kemarin sore
merindunya hampir gila hingga tak mampu jawab apa
sering aku berdiam, hanya sekedar saja menunggu
tapi benar saja tak pernah datang yang kutunggu
sampai aku tak inginkannya, tergopoh tanpa dosa
dia datang, membawakanku seribu kotak rindu
katanya adalah harta, sebuah persembahan
aku merasa menjadi barisbaris kosong tadi
merenungi renungrenung sunyi yang sedari pagi ada
mungkin akulah gadis cengen yang dia cari
atau aku adalah reinkarnasi pada ruang labirin lain
hamparan langit biru tanpa corak sedikitpun
ke mana gadis kecil yang menangis kemarin sore
merindunya hampir gila hingga tak mampu jawab apa
sering aku berdiam, hanya sekedar saja menunggu
tapi benar saja tak pernah datang yang kutunggu
sampai aku tak inginkannya, tergopoh tanpa dosa
dia datang, membawakanku seribu kotak rindu
katanya adalah harta, sebuah persembahan
aku merasa menjadi barisbaris kosong tadi
merenungi renungrenung sunyi yang sedari pagi ada
mungkin akulah gadis cengen yang dia cari
atau aku adalah reinkarnasi pada ruang labirin lain
Friday, May 6, 2011
Sayang, Tak Perlu Lagi
inilah pagi teramai ketika tak ada satu hal pun terlintas di kepala
entahlah mengapa pagi ini terasa begitu membahagiakan...
sayang, tak perlu lagi aku sarapan kalau senyumanmu begitu mengenyangkan
sayang, tak perlu lagi aku merindumu, kalau kamu telah merindu seorang yang lain
sayang, tak perlu lagi aku mencinta pagi, kalau pelukanmu lebih hangat dari mentari
sayang, tak perlu lagi otakku bekerja keras mengingatmu, kalau kamu selalu nyata di mataku
sayang, tak perlu lagi kamu menunjuk sepi, akan selalu ada aku yang mengukir senyum di bibirmu
sayang, tak perlu lagi kau buat hujan di matamu kalau hanya inginkan dua pelangi di sana, ini ada aku yang akan membawakannya untukmu
entahlah mengapa pagi ini terasa begitu membahagiakan...
sayang, tak perlu lagi aku sarapan kalau senyumanmu begitu mengenyangkan
sayang, tak perlu lagi aku merindumu, kalau kamu telah merindu seorang yang lain
sayang, tak perlu lagi aku mencinta pagi, kalau pelukanmu lebih hangat dari mentari
sayang, tak perlu lagi otakku bekerja keras mengingatmu, kalau kamu selalu nyata di mataku
sayang, tak perlu lagi kamu menunjuk sepi, akan selalu ada aku yang mengukir senyum di bibirmu
sayang, tak perlu lagi kau buat hujan di matamu kalau hanya inginkan dua pelangi di sana, ini ada aku yang akan membawakannya untukmu
Friday, April 15, 2011
Lupa Kamu Luka
Tag:
cinta
Beberapa jam sebelum ini. Air mata bersama berderai, lalu kulihat lamat-lamat matamu yang telah sembab.
"Pasti kamu telah menangis sebelumnya. Iya, kan?"
Tak perlu kau jawab, aku sudah tahu.
Telah kukatakan padamu, jauh hari sebelum ini, telah kusediakan bahuku untukmu. Menangislah sepuasmu. Aku tahu, akan ada hari di mana matamu tumpah dengan air mata kepedihan dan patah hati. Tapi hari ini, kita menangis berdua. Tentang cinta yang jatuh yang hancur yang menyisakan luka. Adalah kita dua perempuan yang sesegukan di tengah siang yang mendung. Apalagi, selain kesenangan bernama cinta yang berrbuah luka.
Bersyukurlah lukamu tak pernah sepedihku. Paling tidak kamu telah belajar banyak dariku yang selalu berkisah tak indah. Meski aku juga sering menceritakan hal berbau dongeng padamu. Dialah yang tetiba kuhadirkan di hidupmu, menyelami jiwamu, hingga membuatmu sesakit ini.
Jujur, aku ikut terluka kala kamu menangis. Lama aku tak pernah melihat pipimu basah oleh air mata luka. Atau mungkin karena aku yang terlampau cengeng untuk semua lukaku sendiri? Entahlah. Setidaknya saat ini aku telah banyak belajar untuk mengontrol air mataku. Tapi... pengecualian hari ini. Aku yang menangis bersamamu. Lebih pada lukamu yang juga ikut kurasakan. Mungkin juga luka yang segera kurasakan..
Untuk beberapa waktu lagi. Mungkin.
Sayang, biarkan priamu berlari sesukanya. Biarkan ia pergi lintas batas. Masih ada bahagiamu yang menunggu. Tentang dia di bulan Juli. Di sini masih ada aku, yang sedia membantumu. Merapikan kepingan hatimu bersama waktu. Tak perlu tangisi dia, tapi menangislah untuk dirimu.
Semoga cepat membaik ya Sayang.
Aku sayang kamu.
Monday, March 21, 2011
Pelukan Malam
Tag:
fiksi
duduk memeluk lutut, menunggumu datang
mengusap kepalaku penuh sayang
hingga senja tega menelanku
dan kamu tak juga hadir di depanku
lalu apa salahku, sayang
tidakkah hati ini terlalu rapuh membelamu
tentang segala rasa dan asa
yang pernah kita bangun bersama
lalu apa salahku, sayang
tidakkah kamu ingin dicintai sepenuh hatiku
tak akan ada aku, di senja berikutnya
kucukupkan langkahku di sini saja
hingga malam memelukku
selamanya di hidupku tak ada kamu
mengusap kepalaku penuh sayang
hingga senja tega menelanku
dan kamu tak juga hadir di depanku
lalu apa salahku, sayang
tidakkah hati ini terlalu rapuh membelamu
tentang segala rasa dan asa
yang pernah kita bangun bersama
lalu apa salahku, sayang
tidakkah kamu ingin dicintai sepenuh hatiku
tak akan ada aku, di senja berikutnya
kucukupkan langkahku di sini saja
hingga malam memelukku
selamanya di hidupku tak ada kamu
Saturday, March 5, 2011
Lagu Air Mata
Tag:
fiksi
| Add caption |
Kalau kamu tahu, yang kuinginkan di detik ini adalah menangis. Tapi aku menghindar, karena aku tahu air mata takkan pernah menjawab semua pertanyaan yang sekarang sedang bergeliat hebat di kepala ini. Biarkan aku putarkan sebuah lagu dan cerita akan bergulir.
Ini tentang lagu, namanya lagu air mata. Ketika hati yang terdesak oleh himpitan kekecewaan, sementara otak dipaksa untuk berlogika dengan baik, sungguh bukan suatu kondisi yang baik untuk bisa lenjeh-lenjeh tanpa beban. Maka lagu air mata itu pun mengalun. Nada minor tanpa suara. Tapi lagunya mampu menghancurkan ruang kosong bernama kesedihan di dalam sini. Hebat, bukan?
--
#2
Emosi ini berjalan mengikuti logika. Jadi masih dikatakan bahwa 'akan baik-baik saja'. Lalu kenapa aku memutarkan lagu ini? Mungkin karena aku membutuhkannya. Lagu ini memang tidak sejadul lagu Saling Setia milik Rita Effendi, tidak juga kekinian seperti lagu Sedari Dulu nya Tompi. Tidak. Tapi lagu ini ada dan abadi karena tidak mengenal dekade.
--
#3
Lagu air mata terus berjalan dan perjalanannya adalah seperti tak temukan tepi. Sama seperti aku dan kamu yang sedang menapaki jalan yang sama. Kita seirama. Paling tidak untuk hari kemarin yang begitu membuat wajah ini meranum sepanjang hari.
Kemudian apa yang terjadi dengan hari ini? Mengapa lagu air mata ini harus ungkapkan makna kesedihan, untuk malam yang terlalu indah jika dipakai menangis? Bukan. Bukan itu ingin kita. Karena masih ada kalimat tertunda yang masih dalam perjalanannya juga. Sekali lagi, untuk itu lagu air mata ini dirasa pantas untuk mengiringi.
--
#4
Aku dan kamu dalam perjalanan. Kita sedang mendengar lagu yang sama dalam berkelana.Perjalananmu berkelana adalah jalan pulangmu kepadaku. Berseteru dengan lidah, bukan berarti mengecap apa yang tidak terucap. Sentuh relung ini. Katakan bukan aku, kalau seperti itu keinginanmu. Katakan itu aku, kalau aku benar adalah jalan pulangmu. Berbisiklah dan teriakkan dengan ketulusan.
Juga katakan, lagu air mata ini tak pernah ada. Karena ini hanyalah kebohongan.
--
#5
Bukankah kita semua manusia hidup di atas kebohongan mereka masing-masing?
--
#6
Cukupkan. Mari kita nyanyikan saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)




